Friday, July 16, 2021

Apakah Teori evolusi melanggar hukum kedua termodinamika?

Apa sih hukum kedua termodinamika ini?

Entropi dapat diartikan sebagai tingkat ketidakteraturan. Dalam hukum termodinamika, entropi secara alami akan selalu meningkat dan ini berlaku universal bahkan dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari. Misal anda punya sepeda baru yang diletakkan di sebuah lapangan terbuka. Maka sepeda anda akan terkena hujan, panas, angin dan lain sebagainya. Lambat laun sepeda anda itu akan berubah: warnanya makin usang, bannya kempes, besi-besinya berkarat dan lain-lain. Bahkan jika anda biarkan sepeda anda lebih lama lagi, bisa jadi sepeda anda sudah tidak terlihat, yang ada hanyalah besi-besi berkarat. Dalam hal ini, sepeda yang baru memiliki entropi yang rendah karena tersusun dengan rapih, kompleks dan komponen-komponennya masih berfungsi dengan baik. Sedangkan sepeda yang sudah menjadi besi-besi berkarat memiliki entropi yang lebih tinggi. Ini adalah hukum alam dan tidak pernah terjadi dengan arah sebaliknya. Maksudnya jika kita letakkan besi-besi berkarat di sebuah lapangan terbuka, maka ditunggu berapa lama pun tidak akan menjadi sepeda baru, kecuali ada orang yang membuatnya. Artinya, jika ingin membuat sepeda dari besi-besi berkarat yang ada, maka dibutuhkan usaha dari luar, dengan kata lain tidak alami lagi.

Dalam teori evolusi, semua makhluk hidup mengalami evolusi dan sampai sekarang pun masih berlangsung. Untuk lebih jelasnya kita ambil contoh yang paling membuat kontroversi, yaitu evolusi manusia. Ada satu hal yang paling banyak orang salah-paham mengenai evolusi manusia ini. Kebanyakan orang mengira bahwa manusia berevolusi dari kera, seperti gambar di bawah ini:



Dalam gambar seolah-olah mengatakan bahwa manusia sekarang berasal dari sejenis makhluk yang mirip kera yang kemudian berubah menjadi lebih tegak hingga menjadi manusia seperti sekarang.  Padahal, yang dijelaskan oleh teori evolusi adalah bahwa bahwa manusia dan kera berasal dari nenek moyang yang sama. Kira-kira gambarnya seperti di bawah ini:

Sumber gambar: https://saintif.com/

Lalu, dimana letak ketidakseusuaiannya dengan sifat entropi?

Dalam hukum kedua termodinamika dinayatakan bahwa entropi dalam ruang tertutup (terisolasi) selalu selalu meningkat. Artinya tingkat ketidakteratruan dalam suatu sistem akan selalu meningkat. Kalau kita amati bahwa tubuh makhluk hidup yang ada sekarang sangatlah terorganisir dan kompleks dengan tingkat keteraturan yang sangat tinggi. Perhatikanlah organ-organ tubuh kita: jantung, otak, hati, dan lain sebagainya. Kesemuanya memiliki fungsi dan bekerja sama dengan baik sehingga kita dapat hidup. Begitu pula dengan makhluk hidup lainnya yang memiliki organ-organ tubuh dan fungsinya masing-masing. Nah, jika kita hubungkan dengan konsep entropi, maka nenek moyang manusia dan lainnya (simpanse, orang utan, gorilla) haruslah makhluk yang memiliki entropi lebih rendah dibandingkan manusia sekarang. Hal ini dapat diartikan bahwa nenek moyang manusia memiliki tingkat keteraturan yang jauh lebih tinggi dan lebih komplesk daripada manusia sekarang. Jadi, jika kita ingin menyelaraskan antara teori evolusi dan hukum kedua termodinamika ini, maka mungkin saja nenek moyang manusia adalah makhluk yang lebih cerdas dan canggih dibandingkan manusia sekarang.

Yang menjadi perdebatan adalah teori evolusi berpendapat bahwa hewan, tumbuhan, dan manusia merupakan hasil dari evolusi makhluk hidup yang berbentuk lebih sederhana. Nah inilah yang bertentangan dengan hukum termodinamika kedua. Karena berdasarkan hukum kedua termodinamika, tidak mungkin sebuah sistem menjadi lebih teratur dengan kompleksitas lebih tinggi secara alami. Artinya tidak mungkin dari makhluk hidup sederahana bersel satu berevolusi menjadi makhluk hidup kompleks bersel banyak secara alami. Seperti halnya bahwa tidak mungkin bongkahan besi, karet, dan plastik dapat menjadi sepeda secara alami.

Pendapat ini dibantah oleh para pendukung evolusi. Mereka berargumen bahwa fenomena entropi yang selalu meningkat adalah khusus utuk sistem tertutup (terisolasi). Namun, bumi bukanlah sistem tertutup, sehingga masih memungkinkan adanya energi atau usaha eksternal yang membuat makhluk hidup berevolusi dari makhluk hidup yang lebih sederhana mejadi makhluk hidup yang lebih kompleks. Pendapat para pendukung evolusi ini juga betul, namun belum bisa terbuktikan. JIka memang ada energi atau usaha dari luar bumi, maka apa itu? Bagaiamana prosesnya?

Salah satu jawabannya adalah energi dari matahari. Lagi-lagi ini pun belum bisa menjelaskan bahwa energi matahari dapat membuat evolusi bergerak dari yang sederhana menjadi lebih kompleks. Kenapa? Karena yang teramati dalam kehidupan sehari-hari justru arah sebaliknya, yaitu justru mempercepat peningkatan entropi.

Pernyataan-pernyataan bantahan untuk sebuah teori sangat dibutuhkan untuk dapat dijawab secara logis agar sebuah teori itu menjadi lebih matang. Intinya teori evolusi memang tidak/belum sempurna. Oleh karenanya teori evolusi pun berkembang seperti halnya Neo-Darwinisme. Lalu apakah ada teori lain untuk menjelaskan keanekaragaman makhluk hidup? Sejauh ini belum ada yang sebaik teori evolusi. Beberapa hipotesa memang bermunculan, tapi belum bisa sebaik teori evolusi. Namun, bukan tidak mungkin teori evolusi ini akan runtuh seperti halnya geosentris vs heliosentris, atau terperbarui seperti dari fisika klasik dan kuantum. Siapa tau saja ada ilmuwan revolusioner yang bisa membuat teori yang jauh lebih baik dari pada teori evolusi ini.

Agar teori evolusi dan hukum kedua termodinamika dapat berjalan selaras, maka setidaknya ada dua kemungkinan. Pertama, nenek moyang dari seluruh makhluk hidup di bumi adalah makhluk yang jauh lebih kompleks dan canggih dibandingkan makhluk paling kompleks yang ada di bumi sekarang. Lalu seiring dengan berjalannya waktu makhluk hidup berevolusi menjadi makhluk yang lebih sederhana seperti terjadi seperti sekarang ini. Hal ini pun masih berlangsung hingga hari ini.

Kedua, makhluk hidup dimulai dari makhluk hidup bersel satu yang kemudian berevolusi menjadi makhluk lebih kompleks, namun makhluk yang lebih kompleks ini adalah hasil rekayasa (bukan alami). Ada yang mendesain atau merekayasa sehingga terjadilah makhluk yang kompleks. Namun pertanayaannya adalah siapakah yang perekayasa ini?

Thursday, July 8, 2021

Konveksi paksa internal: Menentukan koefisien konveksi kalor

Kali ini kita akan membahas bagaimana cara menentukan koefisien konveksi kalor pada kasus konveksi paksa internal. Untuk menentukan koefisien konveksi ini, hal yang pertama harus diperhatikan adalah:

1. Apakah alirannya turbulen atau laminar?

2. Apakah masih entrance region atau sudah fully developed region

Untuk aliran laminar dan pada entrance region, maka kita bisa gunakan persamaan ini


Sedangkan untuk aliran laminar pada fully developed region, maka kita dapat merujuk ke tabel berikut:

Tabel cara menghitung koefisien konveksi paksa internal pada aliran laminar (researchgate.net)



Untuk aliran turbulen, jarak entry lengthnya sangat pendek yaitu sepuluh kali diameternya, sehingga dapat diasumsikan bahwa Bilangan Nusselt berikut dapat digunakan untuk seluruh permukan pipa.


Seperti biasa, untuk lebih jelasnya mari kita kerjakan contoh soal berikut:

Sejenis oli bersuhu 20 oC mengalir di dalam sebuah pipa berdiameter 30 cm sepanjang 200 m dengan kecepatan 2 m/s. Sifat oli diasumsikan seperti di bawah ini:



Pipa tersebut terendam di air dingin ber-es dimana pada suhu permukaan pipa adalah 0 oC. Dengan mengasumsikan bahwa hambatan panas dinding pipa dapat diabaikan, tentukan:

a. Temperatur oli saat meninggalkan pipa

b. Laju aliran kalor

Jawaban

(Tri Ayodha Ajiwiguna)

Monday, July 5, 2021

Konveksi Paksa Internal: Contoh soal LMTD

Untuk lebih jelas memahami konsep LMTD, mari kita coba kerjakan contoh soal berikut:

Air memasuki sebuah pipa tembaga dengan diameter 2.5 cm pada suhu 15 oC dengan laju aliran 0.3 kg/s. Air ini dipanasi oleh uap panas dari luar yang bertemperatur 120 oC. Jika rata-rata koefisien perpindahan panasnya adalah 800 W/m2, tentukan panjang  pipa yang dibutuhkan agar keluaran air dari pipa menjadi 90 oC. !!! (asumsikan bahwa temperatur pipa sama dengan temperatur uap)

Jawaban:



(Tri Ayodha Ajiwiguna)

Sistem PLTS Off-grid

Oleh: Tri Ayodha Ajiwiguna Salah satu sistem pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) adalah off-grid. Sistem ini merupakan sistem ...